.:: ASSALAMUALAIKUM.:: AHLAN WASAHLAN DI BLOG INI. Ya! ANDA AKAN BELAJAR BARENG M Hasbi :. Belajar About Dunia Islam, Belajar About Dunia Pemikiran, Belajar About Dunia Tutorial, Belajar About Tips Dan Trick Aneh, Belajar Design Website, Belajar Dunia Shell-ing, Belajar Mencari Hikmah Dan Lain Sebagainya. Sooo ikuti terus perkembanganya. Anda juga bisa mendiskusikan permasalahan apapun tentang Agama Islam bersama saya. Ketik saja di ShoutBox.::. Akhirnya TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGANNYA, SELAMAT MENIKMATI SEMOGA BERKENAN .::.
Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts
Showing posts with label Resensi Buku. Show all posts

Saturday, January 19, 2008

Islam Dihujat

Islam Dihujat

Penulis : Hj. Irena Handono, (mantan biarawati)
Isi : 357 hal.
Penerbit: Bima Rodheta


".... Dia (Muhammad) mengajar dan mencontohkan kepada murid-muridnya untuk membunuh dan merampok demi nama Allah, dan memaksa orang-orang masuk Islam."

Demikianlah kalimat yang tertulis dalam buku "The Islamic Invasion" karya Robert Morey.

Kalimat diatas adalah gambaran bagaimana beberapa kaum orientalis Barat melakukan kajian dan mempresentasikan Islam dan kaum muslimin sesuai dengan kacamata mereka, dibarengi dengan kegiatan misionaris dalam rangka memperkokoh kedudukan imperialis dan penyebaran Kristen di kalangan bangsa Timur Muslim.

Di pihak lain, umat Islam mengalami stagnasi pemikiran dan disintegrasi politik yang sangat parah, bahkan semangat interdependensi seakan lenyap akibat pertikaian interen memperebutkan kepentingan masing-masing dan fenomena taqlid dalam pemikiran agama. Sehingga umat lemah sekali tanpa adanya filter yang berarti, untuk menentang pemikiran-pemikiran mereka. Ironisnya, kalimat diatas adalah identik sekali dengan apa yang diajarkan Jesus kepada umat Kristiani dalam Bibel (lihat Ulangan 20 : 12-14, I Samuel 15 : 2-3).

Maka fenomena pembantaian 300.000 umat Islam di Bosnia oleh umat Kristiani dapat kita lihat dalam ekspresi yang mengerikan. Para jamaah ditembaki saat sedang shalat di Masjid, wanita-wanita diperkosa, walaupun media tidak banyak bersuara mengenai hal ini.

Tetapi di kalangan orientalis Barat sendiri memang ada yang jujur dan sadar dalam memahami Islam dan kaum muslimin. Mereka ini mau tampil sebagai pembela-pembela Islam yang tangguh. Kerapkali mereka juga sangat gemas dengan pandangan yang salah dan zalim dari kalangan orientalis Barat.

Buku ini menjawab beberapa hujatan terhadap Islam dan kaum Muslimin yang ditulis oleh Robert Morey dalam buku "The Islamic Invasion" yang cukup meresahkan masyarakat itu, khususnya para muallaf.

Dalam menjawab "The Islamic Invasion", buku ini merujuk pada sumber pokok Islam yang dihujat Morey, yaitu Al-Qur'an dan Hadits. Juga membandingkannya dengan ajaran Bibel, serta menyertakan komentar orientalis Barat lainnya yang jujur dan sadar dalam melihat Islam. Juga beberapa pemikiran kaum intelektual Muslim sendiri dalam "menyambut" hujatan-hujatan oleh Robert Morey itu.

Buku ini ditulis oleh seorang mantan biarawati yang pernah mendapatkan pendidikan sekolah teologi sampai akhirnya Allah menurunkan hidayah kepada beliau dan sekarang berbalik menjadi seorang ustadzah. Hj. Irena handono, saat ini sebagai ketua Umum Pimpinan pusat Gerakan Muslimat indonesia. Sebuah ormas perempuan muslim independent, lintas golongan, ras dan suku. Program andalan organisasi ini adalah membentengi umat dari bahaya deislamisasi dan pemurtadan. Beliau juga aktif melakukan dakwah, khususnya membina para mualaf-sebuah dunia yang pernah dialaminya sendiri. Beliau pun membangun website yang bisa dikunjungi di http://www.irena-center.org/.

Read More ..

Keajaiban Shalat Hajat –Membuat Keinginan Menjadi Kenyataan

Keajaiban Shalat Hajat –Membuat Keinginan Menjadi Kenyataan


Judul Buku : Keajaiban Shalat Hajat –Membuat Keinginan Menjadi Kenyataan
Penulis : Ibnu Thahir
Tebal : 230 halaman
Ukuran : 13 cm x 19 cm
Penerbit : QultumMedia, 2007 (http://www.qultummedia.com)
Distributor : PT. AgroMedia Pustaka.
Distribusi : Toko buku Gunung Agung, Gramedia, Toga Mas, Toko Buku Utama, dan lain-lain.
Resentor : Ade Hidayat (adehidayat_2007[at]yahoo.com)

“Barangsiapa yang memunyai kebutuhan (hajat) kepada Allah atau salah seorang manusia dari anak-cucu adam, maka wudhulah dengan sebaik-baik wudhu. Kemudian shalat dua rakaat (shalat hajat), lalu memuji kepada Allah, mengucapkan salawat kepada Nabi saw Setelah itu, mengucapkan “Laa illah illallohul haliimul kariimu, subhaana....” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Diriwayatkan dari Abu Sirah an-Nakh’iy, dia berkata, “Seorang laki-laki menempuh perjalanan dari Yaman. Di tengah perjalan keledainya mati, lalu dia mengambil wudhu kemudian shalat dua rakaat (shalat hajat), setelah itu berdoa. Dia mengucapkan, “Ya Allah, sesungguhnya saya datang dari negeri yang sangat jauh guna berjuang di jalan-Mu dan mencari ridha-Mu. Saya bersaksi bahwasanya Engkau menghidupkan makhluk yang mati dan membangkitkan manusia dari kuburnya, janganlah Engkau jadikan saya berhutang budi terhadap seseorang pada hari ini. Pada hari ini saya memohon kepada Engkau supaya membangkitkan keledaiku yang telah mati ini.” Maka, keledai itu bangun seketika, lalu mengibaskan kedua telinganya.” (HR Baihaqi; ia mengatakan, sanad cerita ini shahih)

“Ada seorang yang buta matanya menemui Nabi saw, lalu ia mengatakan, “Sesungguhnya saya mendapatkan musibah pada mata saya, maka berdoalah kepada Allah (untuk) kesembuhanku.” Maka Nabi saw bersabda, “Pergilah, lalu berwudhu, kemudian shalatlah dua rakaat (shalat hajat). Setelah itu, berdoalah....” Dalam waktu yang singkat, laki-laki itu terlihat kembali seperti ia tidak pernah buta matanya.” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Jika kamu memiliki kebutuhan (hajat), maka lakukanlah seperti itu (shalat hajat).” (HR Tirmidzi)

Setiap manusia memiliki kebutuhan dan keinginan, bahkan bisa dikatakan keinginan tersebut selalu ada dan tidak terbatas. Dari mulai keinginan yang dibutuhkan menyangkut dirinya sampai kepada keinginan yang dibutuhkan menyangkut sebuah negara. Bagi yang beriman, segala kebutuhan, cita-cita, harapan, dan keinginan tersebut, tidak serta merta selalu ditempuh melalui jalan usaha secara praktis belaka. Akan tetapi, ia akan terlebih dahulu mengadukannya kepada Allah SWT, sebab Dia adalah Dzat Yang Mahakaya, yang memiliki langit, bumi, dan seluruh alam semesta, Dzat Yang tidak bakhil dalam memberi kepada yang memohon dan meminta kepada-Nya.

Oleh karena itu, Rasulullah saw setiap kali menghadapi kesulitan beliau selalu mengadukannya kepada Allah SWT melalui shalat. Mengadu dan memohon kepada Tuhan yang tidak pernah sekali pun berada dalam lemah dan miskin. Kenapa? Karena shalat adalah jalan keluar bagi mereka yang memiliki kesulitan dan kebutuhan, juga sebagai media dimana seorang hamba mengadukan segala persoalan hidup yang dihadapinya.

Di dalam Al-Qur`an, Allah SWT berfirman, “Dan mintalah pertolongan kepada Tuhanmu dengan melaksanakan shalat dan dengan sikap sabar.” (QS Al-Baqarah <2>: 45)

Shalat hajat, ditetapkan atau disyariatkan yang secara khusus dikaitkan kepada ibadah bagi yang sedang memiliki kebutuhan atau permasalahan. Dan tentunya, ini lebih spesifik dibandingkan dengan shalat-shalat lain dan memiliki suatu keistimewaan sendiri dari Allah dan Rasulullah saw.

Selain itu, shalat hajat merupakan suatu cara paling tepat dalam mengadukan permasalahan yang sedang dihadapi oleh seorang muslim. Shalat hajat merupakan salah satu jenis shalat yang disyariatkan di dalam Islam. Dasar hukum shalat hajat terdapat di dalam hadits Rasulullah saw. Para sahabat, ulama salaf, dan para shalihin biasa melakukan shalat hajat, terutama ketika mereka memiliki suatu kebutuhan, baik dalam situasi mendesak maupun dalam situasi biasa.

Dari beberapa keterangan yang terdapat di kitab-kitab, baik ulama salaf maupun khalaf (kontemporer), shalat ini telah banyak membuktikan keampuhan atau terkabulnya seluruh permohonan dari kebutuhan yang mereka pinta kepada Allah, sebagaimana yang terdapat pada bukuini. Shalat hajat juga merupakan bagian dari keringanan dan rahmat dari Allah SWT bagi hamba-Nya.

Pada praktiknya shalat hajat ini sangat mudah dan bisa dilakukan pada siang hari atau malam, tidak seperti pada shalat-shalat lainnya secara umum. Misalnya, shalat dhuha hanya bisa dilakukan pada saat matahari terbit sampai datangnya waktu zuhur, atau shalat tahajud yang hanya bisa dilakukan pada malam hari. Sebagai pembuktian atas kebenaran sabda Rasulullah terhadap shalat hajat, tidak terhitung banyaknya orang yang telah mendapatkan keajaiban dan terkabulnya permintaan atau hajat mereka.

Bahkan, ada yang mendapatkan keajaiban dengan diturunkan malaikat kepadanya untuk membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya, sebagaimana yang terdapat di dalam bab “Bukti Dan Kisah Nyata Orang-Orang Mendapatkan Keajaiban Shalat Hajat” Untuk menambah kesempurnaan, buku ini juga dilengkapi tata cara shalat hajat dan doa-doa mustajab.
Bacalah buku ini, amalkan, sebab semua orang memiliki kebutuhan. Setelah itu, kita akan merasakannya sendiri manfaatnya!

Read More ..

Snouck Hurgronje dan Islam

Snouck Hurgronje dan Islam

Judul : Snouck Hurgronje dan Islam
Judul asli : Snouck Hurgronje en Islam; Acht artkelen over leven en werk van een orientalist uit het koloniale tijdperk
Penulis : P.SJ. Van Koningsveld
Penerbit : PT. Girimukti Pasaka
Cet. I : 1989

Prof. Dr. Snouck Hurgronje (1857-1936) selama ini merupakan tokoh yang sangat kontroversial. Disanjung dipuja sebagai sarjana Islam yang cemerlang, tetapi juga dicaci maki sebagai seorang ahli muslihat yang hendak menghancurkan Islam dari dalam dengan pura-pura masuk Islam. Betapapun diakui oleh semua pihak bahwa pemerintah Belanda baru mempunyai garis kebijaksanaan tentang Islam didaerah jajahannya yang bernama Hindia Belanda (Indonesia) setelah Snouck Hurgronje menjadi penasehat pemerintah dalam hal-hal yang berkaitan dengan Islam.

Christian Snouck Hurgronje, pada tahun 1884 mengadakan petualangan ke jazirah Arab, dan menetap di Jeddah sejak Agustus 1884 hingga Februari 1885, sebagai persiapan menuju Mekah, yang merupakan tujuan utama dari petualangannya. Snouck sampai di Mekah pada tanggal 22 Februari 1885 dengan menggunakan nama samaran Abdul Ghafar, karena memang Mekah tertutup untuk yang selain muslim. Dia menetap di Mekah selama enam bulan dan menghasilkan karya berjudul Makah. Namun akhirnya pada bulan Agustus, Snouck dipaksa keluar dari Mekah oleh konsul Prancis.

Selama ini di negeri Belanda, Snouck Hurgronje selalu dibicarakan dengan khidmat. Para sarjana Ketimuran seakan-akan menghindar dengan sengaja dari membahas segi-segi Snouck Hurgronje yang menimbulkan tanda tanya. Dia seakan-akan telah menjadi mitos yang tak boleh diganggu gugat. Tetapi seorang sarjana ahli bahasa Arab dan ke-Islaman dari almamater Snouck Hurgronje sendiri, Universitas Kerajaan Leiden, yaitu Dr. P.S.J Van Koningsveld dengan berani dan jujur mencoba mengorek segi-segi Snouck Hurgronje yang digelapkan, sehingga ia mendapat reaksi yang sangat hebat dari para pengagum Snouck.

Dalam buku Snouck Hurgronje dan Islam yang sengaja disusun oleh penulisnya untuk diterbitkan dalam terjemahan Indonesia oleh penerbit Girimukti Pasaka, Prof. Dr. Van Koningsveld mengumpulkan tulisan-tulisannya yang bertalian dengan tokoh kontroversial itu, sehingga para pembaca akan mendapat gambaran yang lebih menyeluruh. Kumpulan tulisan Van Koningsveld ini banyak mendapat pertentantangan dikalangan akademisi yang masih menjadi almamaternya di Leiden.

J.J Witkam, F. Schroder, Dr. L.I. Graf adalah orang-orang yang senantiasa menentang tulisan-tulisannya. Padahal mereka semua satu almamater dengan Van Koningsveld. Van Koningsveld adalah pembantu utama dalam pengkajian sejarah Islam di Fakultas Teologi Universitas Leiden. Banyak intrik-intrik yang terjadi selama pengungkapan kebenaran Van Koningsveld tentang fakta dan data sejarah Snouck Hurgronje.
Apakah Snouck Hurgronje itu seorang sarjana yang piawai, ataukah hanya seorang pegawai pemerintah kolonial yang hendak melestarikan penjajahan orang Kristen terhadap kaum Muslimin Indonesia? Apakah ia seorang "mufti Betawi" yang tulus, ataukah seorang palsu yang berdarah dingin yang mempergunakan ilmu pengetahuan sebagai alat penjajahan ?

Read More ..

Muqaddimah by Ibnu Khaldun

Muqaddimah by Ibnu Khaldun

Judul : Muqaddimah
Penulis : Abd-ar-Rahman ibn Muhammad Ibn Khaldun (Ibnu Khaldun)
Penerbit: Pustaka Firdaus (021-7972536)
Penerjemah : Ahmadie Thoha
Halaman : 852


Refleksi 600 Tahun Wafatnya Ibnu Khaldun
Pangkal Kejatuhan dan Kejayaan Bangsa

Meski namanya telah diabadikan untuk sebuah universitas di Bogor, masih ada di antara kita mungkin belum mengenal sosok serta pemikiran sejarawan agung dan pemikir ulung yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai bapak sosiologi. Dialah Abd-ar-Rahman ibn Muhammad Ibn Khaldun yang hidup antara tahun 1332 hingga 1406 Masehi.

Di bulan November ini setidaknya tiga konferensi antarbangsa telah dan bakal digelar dalam rangka memperingati 600 tahun wafatnya ilmuwan besar ini. Yang pertama pada 3-5 November lalu di Madrid, Spanyol atas kerja sama Islamic Research and Training Institute IDB dengan Universidad Nacional de Educacion a Distance (UNED) dan Pusat Kebudayaan Islam setempat. Yang kedua baru saja terselenggara Sabtu 11 November 2006, di kampus Johann Wolfgang Goethe-Universitaet Frankfurt, Jerman, di mana penulis berkesempatan hadir. Sedang yang terakhir bakal diadakan pada 20-22 November mendatang di ISTAC Kuala Lumpur, Malaysia dengan tema: Ibn Khaldun's Legacy and Its Contemporary Significance.

Ibnu Khaldun hidup saat imperium Islam bagian barat (termasuk Afrika Utara) di ambang kehancuran. Andalusia terpecah-belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kaum Murabitun (Almoravid) dan Muwahhidun (Almohad) saling rebut wilayah dan pengaruh. Sementara kaum Kristen Spanyol waktu itu tengah mengkonsolidasi kekuatan mereka dan menyusun strategi untuk melancarkan serangan besar-besaran demi merebut kembali semua daerah yang diduduki kaum Muslim ---peristiwa kelam yang dinamakan reconquista.

Bermula dengan Toledo (1085), lalu Cordoba (1236) dan Seville (1248), dan terakhir Granada (1492), satu per satu wilayah Islam jatuh ke tangan orang-orang Kristen. Kondisi sosial-politik yang tak menentu itu tentu saja banyak memengaruhi perjalanan karier maupun pemikiran Ibnu Khaldun.

Barangkali karena kesibukannya sebagai pejabat negara dan keterlibatannya dalam politik, Ibnu Khaldun tidak banyak menghasilkan karya tulis. Hanya tercatat beberapa buku kecil seputar logika dan filsafat (Lubab Al Muhashshal), tentang tasawuf (Syifa' As Sa'il li Tahdzib Al Masa'il), dan sebuah otobiografi (At Ta'rif). Namun, ia meninggalkan sebuah karya raksasa berjudul: Tarjuman Al 'Ibar wa Diwan Al Mubtada' wal Khabar fi Ayyam Al'Arab wal Barbar wa man 'asharahum min dzawis-Sulthan AlAkbar.

Bagian pendahuluan dari kitab inilah yang melejitkan namanya ke seantero jagad. Tak aneh, sebab Muqaddimah-nya itu tak ubahnya bagaikan kapsul yang memuat ekstrak prinsip-prinsip yang bekerja di balik aneka manifestasi ilmu pengetahuan, pencapaian, dan pengalaman masyarakat manusia dari masa ke masa.

Pandangan yang relevan

Karya yang ditulis Ibnu Khaldun dalam penjara itu telah diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Prancis, Jerman, dan Inggris. Berikut ini beberapa pandangan Ibnu Khaldun yang masih sangat relevan kini untuk menjadi bahan renungan kita yang sedang berusaha bangkit meraih kejayaan.

Masyarakat dan negara yang kuat adalah masyarakat dan negara yang padanya terdapat tiga perkara. Pertama, solidaritas kebangsaan yang kokoh, di mana sikap dan perilaku mendzalimi, membenci dan menjatuhkan satu sama lain bertukar menjadi saling memberi, saling menghargai, dan saling melindungi. Ibnu Khaldun menyebutnya ashabiyyah atau group feeling --meminjam terjemahan Rosenthal. Kedua, kuantitas dan kualitas sumberdaya manusianya. Ketiga, kebangkitan suatu bangsa dan kejayaan negara berawal dari dan hanya akan langgeng apabila orang-orangnya selalu optimis dan mau terus-menerus bekerja keras. Kesuksesan tidak dicapai sekonyong-konyong, ujar Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, iii/49.

Ibnu Khaldun menganalogikan proses kelahiran dan kehancuran suatu negara dengan kehidupan manusia. Ada tahap-tahap yang mesti dilalui, masing-masing dengan pasang-surut dan pahit-manisnya. Menurut Ibnu Khaldun yang memandang proses sejarah dalam kerangka siklus (ketimbang proses linear ataupun dialektikal), runtuhnya suatu imperium biasanya diawali dengan kedzaliman pemerintah yang tidak lagi memedulikan hak dan kesejahteraan rakyatnya (iii/43) serta sikap sewenang-wenang terhadap rakyat (iii/22). Akibatnya timbul rasa ketidakpuasan, kebencian dan ketidakpedulian rakyat terhadap hukum dan aturan yang ada.

Situasi ini akan semakin parah bila kemudian terjadi perpecahan di kalangan elite penguasa yang kerap berbuntut disintegrasi dan munculnya petty leaders (iii/45). Yang paling menarik adalah observasi Ibnu Khaldun pada pasal 11: bahwa ketika negara sudah mencapai puncak kejayaan, kemakmuran dan kedamaian, maka pemerintah maupun rakyatnya cenderung menjadi tamak dan melampaui batas dalam menikmati apa yang mereka miliki dan kuasai. Itulah petanda kejatuhan mereka sudah dekat.

Namun, kejatuhan suatu bangsa hampir selalu didahului atau diikuti oleh kenaikan bangsa lain yang mewarisi dan meneruskan tradisi maupun peradaban sebelumnya. Sebagai pengganti yang belum semaju dan secanggih pendahulunya, bangsa yang baru muncul ini cenderung meniru bangsa yang pernah menjajahnya hampir dalam segala hal, dari cara berpikir dan bertutur hingga ke tingkah laku dan soal busana. Proses ini bisa berlangsung tiga sampai empat generasi.

Bangsa yang dikalahkan cenderung meniru bangsa yang menaklukannya karena mengira hanya dengan begitu mereka dapat menang kelak. Jika kejayaan suatu bangsa hanya bertahan empat atau lima generasi, hal itu dikarenakan generasi pertama adalah 'pelopor', generasi kedua 'pengikut', generasi ketiga 'penerus tradisi' (tradition keepers), sedangkan generasi keempat berpaling dari tradisi (tradition losers).

Berbeda dengan para penulis sejarah sebelumnya, Ibnu Khaldun dalam analisisnya berusaha objektif. Pendekatan yang dipakainya tidak normatif, akan tetapi empiris-positivistik. Uraiannya berpijak pada das Sein dan bukan das Sollen, pada apa yang sesungguhnya terjadi, bukan apa yang seharusnya terjadi.

Dr. Syamsuddin Arif Ph.D
Orientalisches Seminar Frankfurt, Jerman
http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=271691&kat_id=16

Read More ..

Ayat-Ayat Cinta

Ayat-Ayat Cinta

Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Tebal : ix+418 halaman
Ukuran : 20,5 x 13,5 cm
Harga : Rp. 40.000,00



Inilah salah contoh novel karya penulis muda yang sangat bagus. Dengan judul yang puitis, Ayat-ayat Cinta (Penerbit Republika dan Basmalla, 2004), penulis novel ini Habiburrahman El Shirazy berhasil menggambarkan latar (setting) sosial-budaya Timur Tengah dengan sangat hidup tanpa harus direpoti dan disesaki oleh istilah-istilah Arab. Bahasanya yang mengalir, karekterisasi tokoh-tokohnya yang begitu kuat, dan gambaran latarnya yang begitu hidup, membuat kisah dalam novel ini terasa benar-benar terjadi.

Novel ini mengisahkan 'cinta' dan persahabatan antara Fahri yang Muslim dan Maria yang Koptik (Kristen ortodox). Dari sinilah sang novelis lantas berbicara tentang makna hidup, agama dan cinta, dalam latar sosial-budaya Mesir, dengan pendekatan yang sangat Islami. ''Membaca Ayat-ayat Cinta ini membuat angan kita melayang-layang ke negeri seribu menara dan merasakan pelangi akhlak yang menghiasi pesona-pesonanya,'' komentar artis Ratih Sanggarwati.

What they say about AAC ?

"Penulis novel ini berhasil menggambarkan latar (setting) sosial-budaya Timur Tengah dengan sangat hidup tanpa harus memakai istilah-istilah Arab. Bahasanya yang mengalir, karakterisasi tokoh-tokohnya yang begitu kuat, dan gambaran latarnya yang begitu hidup, membuat kisah dalam novel ini terasa benar-benar terjadi. Ini contoh novel karya penulis muda yang sangat bagus!"

AHMADUN YOSI HERFANDA
Sastrawan dan Redaktur Budaya Republika

"Jarang ada buku seperti ini. Saya tidak yakin akan ada novel serupa dari penulis muda Indonesia lainnya; saat ini bahkan mungkin hingga beberapa puluh tahun ke depan. Begitu menyentuh. Begitu dalam. Dan begitu dewasa!"

MOHAMMAD FAUZIL ADHIM
Psikolog dan Penulis Buku-buku Best Seller

"Jika Naguib Mahfuz menulis Mesir dari pandangan orang Mesir, maka Mesir kali ini ditulis dalam pandangan orang Indonesia. Novel ini ditulis oleh orang Indonesia yang paham betul seluk-beluk negeri itu, hingga ke detail-detail yang paling kecil. Ia hidup, berbaur dan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari; lalu menyerap spirit dan pengetahuan darinya, dan dituangkan dengan sepenuh hati dalam bentuk novel kaya. Ditulis dengan bahasa yang lancar, dengan tokoh-tokoh yang 'hidup' dan berkelebatan dalam berbagai karakter. Membaca novel ini seperti membuka cermin cakrawala yang terbuka..."

JONI ARIADINATA
Cerpenis, Redaktur Jurnal Cerpen Indonesia

"Novel yang tidak klise dan tak terduga pada setiap babnya. Habiburrahman El Shirazy dengan sangat meyakinkan mengajak kita menyelusuri lekuk Mesir yang eksotis itu, tanpa lelah. Tak sampai di situ, Ayat Ayat Cinta mengajak kita untuk lebih jernih, lebih cerdas dalam memahami cakrawala keislaman, kehidupan dan juga cinta."

HELVY TIANA ROSA
Ketua Umum Forum Lingkar Pena

"Membaca Ayat Ayat Cinta ini membuat angan kita melayang-layang ke negeri seribu menara dan merasakan 'pelangi' akhlak yang menghiasi pesona-pesonanya. Sungguh sebuah cerita yang layak dibaca dan disosialisasikan pada para pemburu bacaan popular yang sudah tidak mengindahkan akhlak sebagai menu utamanya, agar dunia bacaan kita terhiasi karya-karya yang 'membangun'."

RATIH SANGARWATI
Artis dan Peragawati

"Sangat romantis dan humanis! Novel ini saya rasakan begitu kuat dalam ajaran, perasaan, dan penokohannya. Luar biasa, hati saya gerimis selesai membacanya!"

HAMIZAR "BAZARVIO" RIDWAN
Sastrawan dan Wartawan Pontianak Post

"Cerita yang disajikan benar-benar bisa membuat pembaca memasuki Mesir dengan detail kota yang menakjubkan. Kisah cinta yang ditawarkan pun bukan kisah cinta kacangan. Inilah novel yang ditulis menggunakan referensi kitab-kitab Islam klasik sehingga mempunyai bobot dakwah tanpa pembaca merasa didakwahi. Seperti komentar yang diatas, novel ini memang bisa membuat hati gerimis, ngga perempuan ngga laki pokoknya gerimis mengundang. Selamat membaca dan jangan lupa siapin tissue !"

INDRA
Admin resensibukuislam.blogspot.com

"Membaca novel ini, nutrisi cinta seakan mengalir memenuhi jiwa. Dan pikiran kiat terpenuhi oleh berbagai pengetahuan dan wawasan. Inilah karya fiksi yang tidak 'mengelabui'. Bagus sekali."

ANNA R. NAWANING
Cerpenis dan Penulis Sastra Islami

Read More ..

Shaidul Khathir, Cara Manusia Cerdas Menang Dalam Hidup

Shaidul Khathir, Cara Manusia Cerdas Menang Dalam Hidup

Judul asli : Shaidul Khatir
Penerbit : Maktabah Nazar Musthafa al-Baz
Pengarang : Imam Ibnu Al Jauziy
Penerbit : Pustaka Maghfirah, 2005


Anda tahu bahwa Anda terkalahkan oleh hawa nafsu Anda, dan Anda tahu bahwa Anda tak sanggup menaklukkannya. Alangkah anehnya, jika Anda gembira dengan ketertipuan Anda, larut dalam kealpaan Anda terhadap hal yang tersembunyi dari dari Anda. Anda tertipu oleh kesehatan Anda, namun Anda lupa betapa dekat penyakit dari diri Anda. Anda bangga dengan afiatmu namun Anda lalai akan betapa dekat saat sakit Anda.

Telah Anda saksikan dengan mata kepala sendiri tempat pembaringan akhir Anda, dan telah tampak di hadapan Anda ranjang-ranjang kematian lewat orang-orang yang ada di sekitar Anda. Sungguh Anda telah tenggelam dan hanyut dalam kelezatan-kelezatan dunia, hingga Anda lupa akan kerusakan diri Anda:

Kau laksana tidak dengar kabar orang-orang yang telah berlalu
Tidak juga kau lihat waktu memperlakukan teman-temanmu
Jika engkau tak sadar itulah rumah-rumah abadi mereka

Kubur-kubur mereka lenyap tertimpa angin menderu. Betapa banyak Anda lihat penghuni rumah yang tak pernah memasukinya, sebelum dia dipaksa memasukinya. Betapa banyak pemilik singgasana, diduduki musuh-musuhnya setelah dia diturunkan secara paksa?! Wahai orang-orang yang detik-detiknya terus merambat menuju ke sana! Namun anehnya kelakuannya seperti manusia yang tak tahu dan tak mengerti apa-apa. Bagaimana mata bisa nyenyak terpejam? Padahal dia tak tahu kemana tempat kembali.

Disadur dari Buku Best Seller Sepanjang Masa "Shaidul Khathir" Karya Ibnu Jauzi (terjemahan) diterbitkan oleh Maghfirah Pustaka Jakarta, 2005
___________________________________________

Komentar dari Dr. Aidh al-Qarni :

"Buku paling bagus dan paling menarik yang pernah saya baca adalah SHAID AL-KHATHIR karya Ibnu al-Jauziy. Dalam pandangan saya, buku ini adalah buku terbaik yang pernah ditulis oleh ulama besar ini. Sulit bagi kita untuk tidak membaca buku ini. Selain tidak berat dan tidak sulit, buku ini menggambarkan kejujuran penulisnya, keluasan cakrawala ilmunya, kekayaan pengalamannya, kecermatan analisanya, dan kelurusan pikirannya. Buku ini merupakan buah kehidupannya.

Saya menyarankan Anda untuk membaca buku ini. Isinya sangat menarik, sarat dengan pesan moral, penuh dengan pengalaman-pengalaman manusia yang cukup panjang. Bahasanya lugas dan penyampaiannya sederhana sehingga mudah dicerna dan dipahami oleh setiap orang. Buku ini telah dikomentari oleh begitu banyak cendekiawan dan diterbitkan dalam berbagai bahasa, selalu laris di pasaran dan bisa diterima oleh banyak kalangan seolah-olah buku ini baru saja ditulis. Buku ini telah memberikan manfaat yang tidak terhitung kepada umat ini. Siapa yang ingin menulis, menulislah sepertinya dan tirulah pola yang digunakannya."

Buku ini setelah saya baca lebih lanjut, memang belum ada tandingannya. Kalo anda penasaran dengan diary seorang ulama besar, inilah bukunya. Buku ini ditulis benar-benar seperti layaknya seseorang menulis diary lengkap dengan permasalahan si penulis dan solusinya. Buku ini juga membuktikan betapa penulisnya adalah seorang yang tawadhu atau rendah hati dengan tidak menutup-tutupi kesalahan beliau sebagai layaknya seorang manusia biasa yang tak pernah terlepas dari dosa. Subhanallah. Begitu senangnya dengan buku ini, sampai bacanya saya hemat-hemat ngga mau cepat habis !.

Read More ..

Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarah Tsalatsatul Ushul

Judul Asli : Syarh Tsalasatil Ushul
Penulis : Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Pensyarah :Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Penerbit : Al-Qowam, Solo


Halaman pertama dari buku tersebut diawali dengan tulisan tentang biografi penulis Kitabut Tauhid yaitu Al-Imam Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, beliau adalah ulama besar yang dilahirkan di negeri Al 'Uyainah pada tahun 1115 H, dalam rumah yang penuh ilmu, kemulyaan dan agama. Sebelum usia sepuluh tahun beliau sudah hafal Al-Qur'an, lalu mempelajari ilmu fikih sampai mendalam, dan beliau banyak membaca kitab-kitab tafsir dan hadits dan selalu terlihat menuntut ilmu, baik di siang atau malam hari.

Diantara guru beliau adalah Al-Allamah As Syaikh Abdullah bin Ibrahim Asy Syamiri, Syaikh Abdullah bin Ibrahim dan seorang ahli hadits tersohor yaitu Muhammad Hayat As-Sindy, beliau banyak memiliki karya-karya yang bermanfa'at. Dan Rahimahullah meninggal pada tahun 1206 H.

Sedangkan pensyarah Kitabut Tauhid ini adalah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, yang dilahirkan di kota 'Unaizah pada tanggal 27 Ramadhan 1347 H, beliau belajar Al-Qur'an kepada kakek dari pihak ibunya, yaitu Abdurrahman bin Sulaiman Al-Damigh Rahimahullah sampai hafal, kemudian kepada Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'dy yang dikategorikan sebagai Syaikh-nya yang utama beliau belajar kitab Tauhid, Tafsir, Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih, Fara'idh, Musthalahul hadits, Nahwu dan Sharaf, disamping itu juga beliau belajar kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah yang merupakan guru kedua beliau setelah Syaikh As Sa'dy. Beliau Hafizhahullah banyak memiliki karangan salah satu diantaranya kitab ini. Dan sekarang ini beliau menjadi anggota Hai'atu Kibaril Ulama Saudi Arabia.

Dengan memperhatikan penulis dan pensyarahnya, dan latar belakang keilmuan kedua ulama tersebut, maka tak pelak lagi buku ini merupakan kitab yang agung dan sangat berfaedah, dan dari sini juga, kita dapat mengambil suatu contoh dan pelajaran yang sangat besar sekali, yaitu ; walau terjadi perbedaan kurun waktu diantara ulama-ulama Ahlus Sunnah, tetapi dari generasi terdahulu sampai generasi sekarang diantara mereka para Ulama Salaf tidak ada perbedaan dalam memahami agama Islam ini, malahan mereka saling menjelaskan satu dengan yang lainnya. Dan dalam perkataannya, mereka selalu mendahulukan telah berfirman Allah Azza wa Jalla dan telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga perkataan dan ilmu mereka dipenuhi dengan faedah dan manfaat yang amat luas serta banyak, karena dilandasi firman Allah dan sabda Rasulullah.

Sesuai dengan judulnya buku ini menjelaskan tentang Tiga Landasan Utama dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskannya untuk kita dengan bahasa yang sistimatis, ringkas dan lugas, sehingga anda-pun insya Allah bisa lebih cepat untuk memahaminya, seperti masalah-masalah ; Makna Ibadah, Pengertian Rabb beserta Dalilnya, Tafsir Tauhid, Rukun Iman, Penjelasan tentang Hijrah, Dakwah setiap Rasul adalah Ibadah kepada Allah dan Larangan Syirik, Syarat Tinggal di Negeri Kafir, dan lain-lain permasalahan yang berhubungan dengan tiga landasan utama, yaitu : Siapa Tuhanmu.? Apa Agamamu ? dan Siapa Nabimu ?.

Dengan ulasan singkat ini dan kekaguman terhadap buku tersebut, maka sangat wajarlah apabila aku menyarankan temen-temen semua untuk memiliki buku tersebut, dan ajaklah keluarga atau temen yang lain untuk membacanya, dengan demikian, insya Allah andapun sudah termasuk orang yang meyebarkan dakwah.

Read More ..

Tersenyumlah

Tersenyumlah

Penulis : Dr. Aidh Abdullah Al-Qarni
Harga : Rp 37.900 ,00
Seri : Umum
Halaman : 280 halaman



Suatu pagi, seorang Arab Badui ingin ikut shalat Shubuh berjamaah. Ketika itu sang imam membaca surah al-Baqarah, padahal saat itu orang Badui tersebut sedang terburu-buru karena suatu keperluan. Akibatnya, ia tidak dapat memenuhi keperluannya itu. Pada esok harinya, ia kembali ingin mengikuti shalat Shubuh berjamaah. Ketika imam mulai membaca surah al-Fiil, orang Badui tersebut langsung pergi seraya berkata, “Ini pasti lebih lama lagi! Bukankah Al-Fiil (gajah) lebih besar dari al-Baqarah (sapi)?”

***

Diriwayatkan bahwa seseorang pernah mengunjungi orang yang sakit, kemudian ia berkata kepadanya, "Apa penyakitmu ?" Ia menjawab, "Sakit di lutut". Ia berkata lagi, "Saya pernah mendengar satu bait syair yang diucapkan Jarir, tapi saya lupa awal syair tersebut, yang saya ingat adalah bagian akhirnya yang berbunyi, "Dan tidaklah penyakit dua lutut itu ada obatnya". Mendengar perkataannya itu, orang yang sakit itu berkata, "Alangkah baiknya seandainya bagian awal syair itu hilang bersama dirimu"

***

Dari judulnya saja, menggelitik kita untuk mengetahui isi buku setebal 280 halaman ini. Setelah membuka halaman pertama, kita terdorong untuk membuka halaman selanjutnya, dan baru berhenti setelah sampai di halaman terakhir, tanpa lelah, karena asyik membaca sambil tersenyum atau tertawa.

Ya, buku berjudul, Tersenyumlah ini memang patut untuk dibaca. Meskipun buku ini lahir dari Timur Tengah, buku ini jauh dari image yang melekat dari buku terbitan Timur Tengah yang biasanya dicetak apa adanya, tanpa sentuhan seni dan cenderung monoton.

Buku yang diterbitkan Gema Insani Press (GIP) ini, memuat kumpulan humor islami yang sangat bervariasi, mulai dari yang klasik hingga yang lahir pada dekade terakhir. Yang membuat buku ini tambah menarik, humor-humor yang disajikan bukanlah sekadar lelucon murahan, melainkan humor-humor yang cerdas. Bahkan kadang kala untuk bisa tertawa pun, pembaca dituntut untuk mengerutkan kening terlebih dahulu. Karena di balik humor-humor cerdas ini, sarat dengan nilai dan hikmah.

Dalam menulis buku ini, Aidh Al Qarni banyak menggunakan kitab klasik seperti, Akhbaarul Hamqaa wal Mughaffaliin, Akhbaarul Adzkiyaa, Akhbaaruzh Zhuraaf wal Mutamajniin karya Ibnul Jauzy dan banyak lagi kitab-kitab lainnya. Penggunaan kitab-kitab ulama terdahulu sebagai referensinya menjadikan buku humor ini sebagai buku humor yang berkelas dan bukan kacangan.

Tersenyumlah, dunia akan menjadi milik Anda. Setidaknya, begitu ajakan dari buku ini. Senyum memang sebuah kata sederhana, namun memiliki makna yang sangat berarti. Hanya dengan mengembangkan senyum, sudah dinilai sebagai sedekah. Betapa sederhana tampaknya, namun tak mudah juga melakukannya, kecuali bagi orang-orang berhati ikhlas. Mereka yang mampu tersenyum adalah mereka yang ingin membagi kebahagiaannya dengan orang lain. Mereka yang ingin menggugurkan kesedihannya untuk diganti dengan kepasrahan dan tawakal, yang berujung pada kebahagiaan juga.

Mereka yang pandai tersenyum, adalah mereka yang memiliki kecerdasan emosi tinggi. Mereka mampu mengendalikan emosi dengan baik, hingga dalam keadaan diliputi kesedihan dan kemarahan pun tetap bisa tersenyum dengan manis. Dalam keadaan teraniaya pun tetap mampu tersenyum, memancarkan cahaya keikhlasan dari dalam dadanya.

Dahsyatnya kekuatan senyum, telah mengilhami Aidh Al Qarni, penulis muda yang produktif dari Timur Tengah, menyumbangkan buah karya istimewanya ini, untuk mengajak umat tersenyum. Tersenyumlah, karena senyum tak kalah penting dengan beragam ibadah lainnya. Banyak pakar yang berpendapat bahwa tawa dan senyuman itu merupakan penyebab paling kuat yang mendorong manusia menjadi aktif dan produktif.

Kesimpulan dan saran mereka adalah: semua orang - sesuai dengan posisinya di berbagai profesi jika ingin menikmati hidup yang tenang, nyaman, dan bahagia, hendaknya dia menjadi orang yang ceria, tersenyum dan tertawa. Dengan demikian, dia dapat menciptakan suasana yang jernih dan cair, serta dapat mengusir kejenuhan, kebosanan, dan kesusahan hidup.

Orang China sering mengungkapkan suatu hikmah, "Orang yang tidak tahu bagaimana tersenyum, maka hendaknya dia tidak usah membuka usaha dagang." Sejumlah ilmuwan menyatakan bahwa tawa itu merupakan getaran akal yang melenyapkan ketegangan-ketegangan dalam jumlah yang cukup banyak.

Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa tawa itu (yang proporsional dan pada tempatnya) adalah pelipur hati, obat bagi jiwa, dan kenyamanan bagi pikiran yang jenuh setelah bekerja dan menguras tenaga. Senyum dan tawa itu merupakan salah satu keahlian atau seni hidup, tapi banyak orang yang tidak berminat untuk mempelajarinya meskipun cukup mudah.

Read More ..
Template by : kendhin x-template.blogspot.com